Makna Tattwa Banten Bebangkit dan Pula Gembal
Makna Tattwa Banten Bebangkit dan Pula Gembal - yang tergolong Banten Tataban adalah Banten Bebangkit dan Pula gembal.
Banten Bebangkit dalam upacara Yadnya selalu digunakan bersamaan dengan Banten Pulagembal dan disertai Banten Sekar Taman.
Sedangkan Banten Pulagembal dengan Banten Sekar Taman dapat digunakan tanpa Banten Bebangkit.
Banten Bebangkit itu Dewanya Dewi Durgha pengendali Bhuta Kala.
Banten Pulagembal ditujukan pada Bhatara Gana yaitu Dewa yang melindungi manusia dari godaan Bhuta Kala.
Banten Sekar Taman ditujukan pada Dewa Smara Ratih.
Banten Bebangkit adalah lambang alam yang dahsyat masih asli. Alam ini bisa menjadi musuh dan juga sekaligus sahabat umat manusia. Mengapa demikian, karena alam ini tempat lahir, hidup dan matinya manusia dan makhluk hidup lainya. Dari alam inilah orang mendapatkan penyakit dan juga sumber kesembuhan. Banten Bebangkit adalah lambang alam yang dahsyat yang dapat menimbulkan kesengsaraan umat manusia dan makhluk hidup lainnya. Karena itu Banten Bebangkit ditujukan pada Dewi Durgha untuk dapat menguasai aspek Bhuta Kala dari alam itu sendiri. Bhuta artinya ruang dan Kala artinya waktu. Tidak ada makhluk hidup tidak berada dalam suatu ruang dan waktu. Kalau manusia tidak mampu menata dirinya dalam suatu ruang dan waktu dengan benar, baik dan tepat secara teratur maka ruang dan waktu itu akan menjadi sumber kesengsaraan bagi hidupnya.

Dewi Durgha adalah perwujudan Krodha dari Dewa Siwa. Sedangkan Dewi Uma Parwati adalah perwujudan Somia dari Dewa Siwa. Banten Bebangkit yang melambangkan alam yang dahsyat. Dengan Banten Pulagembal dan Sekar Taman, kedahsyatan alam ini akan berubah menjadi kasih sayang memberikan kehidupan pada manusia. Dari alam itulah manusia mendapatkan perlindungan dan cinta kasih dalam menyelenggarakan kehidupan. Banten Pulagembal Banten yang ditujukan pada Bhatara Gana untuk mendapatkan kekuatan untuk mengolah alam ini agar aspek negatifnya tidak muncul. Artinya Banten Bebangkit lambang aspek negatif dari alam ini, sedangkan Banten Pulagembal lambang aspek positif dari alam ini. Dari pertemuan nagatif dan positif dari alam ini akan terjadi penciptaan yang memberikan makna pada kehidupan di dunia ini. Agar aspek negatif dan positif dari dua Banten tersebut maka penggunaan dua Banten tersebut selalu ada Banten Sekar Taman.
Banten Sekar Taman ini lambang cinta kasih yang murni atau Prem Wahini dari Dewa Smara dengan Dewi Ratih. Makna filosofi dari ketiga Banten itu sebagai suatu visualisasi dari proses hubungan antara manusia dengan alam lingkungan. Alam yang diperlakukan dengan penuh kasih sayang itulah yang akan menjadi sumber kehidupan umat manusia. Ketiga Banten tersebut sebagai Banten Tataban untuk membangun sikap hidup yang membangun kasih sayang pada alam ciptaan Tuhan ini sehingga dari alam yang dahsyat menjadi alam yang berguna bagi hidup manusia. Banten Smara Ratih simbol merubah aspek Krodha dari alam ini yang dilambangkan oleh Banten Bebangkit. Dengan Banten Sekar Taman berubahlah Dewi Durgha menjadi Dewi Uma Parwati.
Banten Bebangkit itu terdiri dari tiga bagian yaitu,
- Tadah Bebangkit ireng atau hitam.
- Tadah Bebangkit Putih dan Balen atau balainya Bebangkit. Bentuknya mirip dengan Sekar Taman.
- Tiang Balen Bebangkit itu dibuat dari bambu atau bahan yang lainya. Dapat juga dibuat seperti Meru.
Pada Banten Bebangkit ini ditempel bebarapa jenis jajan yang disebut jajan Sesamuhan Bebangkit. Jajan ini bentuk dan namanya berbeda-beda dari satu tempat dengan tempat yang lainya di daerah Bali ini.
Namun ada unsur-unsur inti yang sama yaitu ada jajan bulan matanai, ada jajan marga dab lawang. Keempat jajan ini ditempelkan di empat arah dari Banten Bebangkit ini .Penempatan jajan matanai berlawanan dengan jajan bulan. Jajan marga berlawanan arah dengan jajan lawang. Diempat jenis jajan tersebut barulah ditempelkan jajan lainya. Misalnya jajan tangkar iga, jajan ancak, bingin dan lain-lainya. Jajan tersebut lambang keseimbangan. Bulan dengan matahari. Ada jajan marga artinya jalan lalu ada lawang artinya pintu.
Banten Bebangkit dibagi menjadi tiga jenis.
- Bebangkit Gerombong untuk Upacara yang kecil atau Nista.
- Bebangkit Bogem atau Mecagak untuk Upacara yang Madya.
- Bebangkit Agung Mekaras begitu namanya untuk upacara yang besar atau disebut Utamaning Utama.
Nilai filosofis ketiga Banten Bebangkit itu sama. Yang berbeda nilai sosial budayanya saja.
Banten Bebangkit dibedakan juga dari jenis binatang yang digunakan
Ada yang menggunakan babi dan ada yang menggunakan itik. Penggunaan hewan itu juga menggambarkan proses peningkatan dari Guna Tamas yang dilambangkan oleh babi menuju Guna Sattwam yang dilambangkkan oleh itik. Hewan yang digunakan sebagai Bebangkit menurut Lontar Dewa Tattwa agar diolah mewujudkan Durga Dewi.
Olahan hewan itu disebut Gayah dengan kelengkapannya dalam bentuk Jejatah yang dibuat sebanyak sembilan jenis berbentuk senjata Dewata Nawa Sanga yang diletakkan berkeliling yang disebut Ngider Bhuwana.
Jejatah yang berbentuk senjata Dewata Nawa Sanga, yaitu: Bajra, Dhupa, Danda/Gada, Moksala, Naga Pasa, Angkus, Cakra, Tri Sula dan Padma.
Gayah ini juga dibagi menjadi tiga yaitu: Gayah Pupus dipergunakan untuk Bebangkit Gerombong. Gayah Sari dipergunakan untuk Bebangkit Bogem atau Bebangkit Mecagak. Sedangkan Gayah Utuh dipergunakan untuk Bebangkit Agung Mekaras. Bebangkit ini digunakan pada Upacara yang Utamaning Utama.
DAFTAR PUSTAKA
Kajeng. 1991. Sarasamuscaya, Alih Bahasa. Mayangsari: Jakarta.
Mantra, Ida Bagus. 1967. Bhagawad Gita, Alih Bahasa. PHDIP.
Mardiwarsito. L ., 1978. Kamus Jawa Kuna Indonesia. Nusa Indah: Ende Flores.
Puja, I Gde dan Rai Sudharta, Cok, 1977/1978. Manawa Dharmasastra, Alih Bahasa, Departemen Agama.R.I.: Jakarta.
Semadi Astra, dkk, 1984. Kamus Kecil Sansekerta Indonesia. Pemda Bali.
Titib, I Made, 2000. Teologi Hindu dan Simbol-Simbol dalam Agama Hindu. Paramita: Surabaya.
Titib, I Made, 1998. Weda Sabda Suci Pedoman Praktis Kehidupan. Paramita. Surabaya.
Wiana, I Ketut, 1995. Yadnya dan Bhakti Dari Sudut pandang Agama Hindu. Pustaka Manik Geni: Denpasar.
Wiana, I Ketut, 2001. Makna Upacara Yadnya Dalam Agama Hindu Jilid I. Paramita: Surabaya.
Wiana, I Ketut, 2009. Suksmaning Banten. Paramita: Surabaya.
Sumber: Tulisan ini merupakan Kutipas Asli dari Tulisan Drs, I Ketut Wiana
Pustaka dari: Tim Peneliti WHP/WHC, 2015. Konsep dan Praktik Agama Hindu Di Bali. Surabaya: Paramita
Komentar